KEARIFAN PENGELOLAAN SUMUR ARTESIS UNTUK PELESTARIAN SUMBER AIR TANAH

KATA PENGANTAR

Sebagai ungkapan kekurangan dan kelemahan seorang hamba kepada sang khalik-Nya, atas tebaran nikmat, rahmat serta karunia yang senantiasa tercurah, maka sepantasnyalah dipanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dan atas perkenan-Nya jualah sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah dengan judul “KEARIFAN PENGELOLAAN SUMUR ARTESIS UNTUK PELESTARIAN SUMBER AIR TANAH ” ini.
Dalam penyusunan karya tulis ini, peneliti mempunyai keterbatasan pengetahuan . Namun hal tersebut dapat diatasi berkat bimbingan dari Guru Pembimbing yang tak pernah bosan dan penuh kesabaran dalam membimbing penulis, memberikan kritikan, arahan dan dorongan semangat dari awal hingga akhir. Semua itu mungkin penulis tidak dapat membalasnya. Namun penulis hanya dapat berdoa serta memohon keberkahan Tuhan YME, semoga segenap bantuan yang diberikan memperoleh balasan yang lebih baik dariNya.
Penulis sangat menyadari bahwa dalam karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu sangat diharapkan saran dan kritik yang konstruktif guna penyempurnaan penulisan selanjutnya.
Akhir kata, semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua. Amin.
Palu, 20 Maret 2009

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Air merupakan sumber kehidupan bagi makhluk hidup, tidak terkecuali manusia. Air terbagi atas air danau, air sungai, air laut, dan air tanah. Air yang dimaksud dalam hal ini adalah air tanah. Air tanah pun dapat diklasifikasikan menjadi air permukaan bawah tanah dan air tanah dalam yang dipisahkan oleh lapisan impermeable.
Seperti yang kita ketahui Air adalah sumber daya alam yang dapat diperbaharui serta sangat vital untuk kegiatan sehari – hari manusia. Tanpa air, kehidupan manusia bisa lumpuh. Karena itu, tak heran bila krisis air dianggap sebagai momok yang menakutkan.Di zaman dahulu, berlimpahnya air dimana-mana membuat manusia terlena dan melakukan pemborosan. Tidak terbesit dipikaran mereka bahwa suatu saat di masa yang akan datang akan terjadi kisis air seperti yang terjadi saat ini. Dan pada akhirnya terjadi ketidakseimbangnya kehidupan di bumi. Ketika di suatu tempat mengalami kelebihan air, di tempat yang lain malah kekurangan air. Melihat fenomena ini, tentu saja manusia tidak tinggal diam. Oleh karena itu, segala cara ditempuh untuk tetap memenuhi kebutuhan akan air seperti pembuatan sumur timba, dan PDAM yang bersumber dari air permukaan bawah tanah. Kedua terknologi ini ternyata mendatangkan dampak yang fatal bagi ketersediaan air permukaan tanah.

Dalam weblog Raksa Sanusi Supadi,2008 bahwa : “Kondisi muka air tanah di Kota Bandung semakin memprihatinkan. Sejak tahun 1972, setiap tahun terjadi penurunan muka air tanah antara 0,05 sampai 7,3 meter. Dengan penurunan muka air tanah sebanyak itu, disinyalir hingga tahun 2002 muka air tanah turun lebih dari seratus meter. Akibatnya, air tercemar dan tahun 2007 mendatang Bandung terancam kekurangan air (www.google.com).”

Jika hal ini terus-menerus berlangsung, maka dapat dipastikan dalam waktu singkat terbentuk sumur kering bawah tanah karena air permukaan bawah tanah telah habis. Dan pada akhirnya manusia akan kekurangan bahkan kehabisan air.
Mencegah hal ini, ditemukanlah suatu teknologi yang dianggap sebagai solusi untuk permasalahan ini. Teknologi ini berawal dari keinginan untuk mencari sumber air abadi yaitu sumber air dalam jumlah yang sangat banyak dan tidak akan habis dalam waktu singkat dengan memperdalam pengeboran tanah hingga menembus lapisan impermeabel. Untuk mengambil air tersebut maka ditemukanlah teknologi sumur injeksi (artesis).
Banyak orang mengatakan (terutama tukang sumur) kalau mereka menerima pembuatan sumur artesis, sebetulnya apakah semua sumur air dalam di sebut sumur artesis. sumur artesis berbeda dengan sumur timba atau PDAM. Perbedaannya adalah terletak dari sumber airnya.
Pada hakikatnya, sumber air sumur artesis adalah air tanah dalam. Ditinjau menurut ilmu geologi, lapisan tanah . tersusun atas permukan tanah, lapisan tanah tidak berisi air, permukaan air tanah, lapisan tanah jenuh, air tanah dangkal, lapisan impermeable, air tanah dalam, lapisan impemeabel, strata pembatas. Pembuatan sumur artesis harus melalui pengeboran melewati lapisan impermeable (kedap air). Sehingga jika sebuah pabrik yang terletak di perumahan warga misalnya, menggunakan sumur artesis, maka hal itu tidak akan mendatangkan dampak negative bagi warga disekitarnya yang hanya menggunakan PAM dan sumur timba karena sumber air mereka berbeda.

Dalam artikel dari Perusahaan Sumur bor Artesis Rumah Pabrik Hotel Apartemen, 2009 bahwa : ”Sumur artesis adalah sumur yang bertekanan tinggi karena dia terjebak dalam batuan yang memiliki tekanan, sehingga ketika dilakukan pengeboran, air dapat naik sendiri tanpa harus di pompa. Karena tekanannya cukup tinggi untuk menyembur sampai ke permukaan. Oleh karena itu pipa yang menjadi Saluran keluarnya air (bisa dengan menutup keran di setiap cabang pipa) tidak boleh tertutup karena akan menyebabkan tekanan tersebut terhalangi sehingga tekanan tersebut akan mencari celah lain untuk keluar. Sumur artesis adalah sumur air yang biasanya berada di kedalaman >60 meter.(www.sumurbor.com)”

Namun seberapa dalam sumur artesis bukanlah indicator penentu apakah suatu sumur dikategorikan sebagai sumur artesis karena lapisan tanah di setiap daerah berbeda.
Memang benar sumur artesis dapat menjadi solusi yang dapat mengatasi masalah kebutuhan air. Khususnya untuk masyarakat yang berkecimbung dalam usaha besar seperti usaha pencucian mobil, hotel dan lain-lain. Namun bagaimana jika sumur yang mereka anggap adalah sumur artesis ternyata bersumber dari air permukaan bawah tanah yaitu air yang merupakan sumber sumur-sumur pada masyarakat ? sehingga dengan asumsi yang salah itu, mereka melakukan pemborosan seenaknya dan akan berdampak fatal bagi masyarakat pengguna sumur dangkal. Dampak boleh belum terasa sekarang,namun pasti di masa yang akan datang. fenomena ini sangat menarik untuk ditelusuri.Penulis menjadikan fenomena ini sebagai topic penelitiaannya dengan memilih tempat jasa pencucian mobil di daerah kota Palu Sulawesi tengah sebagai objek yang akan diteliti.
Daerah Sulawesi Tengah khususnya kota palu merupakan daerah air yang berintesitas tinggi. Hal ini dimanfaatkan sebagai objek usaha pencucian kendaraan khususnya kendaraan beroda empat. Seperti yang tersebar di kawasan jalan I Gusti Ngurah Rai. Semua tempat pencucian mobil ini menggunakan air dari sumur artesis. Namun yang menjadi pertanyaan besar, mengapa sejak adanya jasa pencucian mobil ini, warga sekitar lokasi ini memiliki keluhan terjadi bahwa debit air di kran-kran di rumah mereka semakin kecil dan terkadang airnya berpasir bahkan bau. Oleh karena itu, hal yang paling penting dalam pembuatan sumur artesis yaitu pengetahuan yang cukup tentang sumur artesis itu sendiri. Namun kenyataan di lapangan tidak demikian. Masih adanya warga yang belum mengetahui hakikat sumur artesis yang sebenarnya memberikan dampak negative bagi lingkungan.
Dari pemaparan di atas penulis melihat bahwa terdapat masalah yang menarik untuk ditelaah dan dituangkan pada kaya tulis ini dengan tujuan dapat meluruskan kekeliruan konsep artesis yang dipaham masyarakat awam selama ini dan mencoba memaparkan solusi, sehinga meminimalisir dampak lingkungan untuk di masa yang akan datang.

B. Permasalahan
1. Masih ada warga yang belum mengetahui apa hakikat sumur artesis yang sebenarnya sehingga berdampak buruk terhadap lingkungan.
2. Eksploitasi air tanah melalui penggunaan sumur artesis di kawasan pencucian mobil jalan Gusti Ngurah Rai.

C. Ruang lingkup
Dalam penelitian ini, penulis memberi batasan masalah agar tujuan penulisan dapat tercapai dan dipahami, serta untuk menghindari agar uraian tidak terlalu meluas ruang lingkupnya. Penelitian ini dilakukan dengan batasan – batasan sebagai berikut :
1. Sumur artesis yang diteliti yaitu sumur artesis di kawasan pencucian mobil jalan ngurah rai
2. Lokasi penelitian dilakukan di tempat pencucian mobil dengan radius ± 10 meter.
3. Debit air yang diukur yaitu pada 4 selang air yang digunakan ditempat pencucian mobil

D. Tujuan penulisan
1. Unuk megetahui seberapa besar eksploitasi air tanah melalui penggunaan sumur artesis di kawasan pencucian mobil jalan Gusti Ngurah Rai.
2. Untuk memaparkan hakikat sumur artesis yang sebenarnya

3. Manfaat penulisan
1. Dari aspek teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar atau konsep pemikiran mengenai hakikat , serta dalam sumur artesis yang sebenarnya
2. Dari aspek praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi pemahaman bagi para pembaca sebagai bahan referensi untuk mengetahui konsep sumur artesis yang sebenarnya sehingga dalam pembuatan sumur artesis tidak berdampak buruk bagi lingkungan.


BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

Menggunakan teknologi pun dibutuhkan pemahaman konsep mengenai teknologi itu sendiri sehingga menghasilkan asumsi yang benar. Sebelum memahami hakikat sumur artesis yang sebenarnya, perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana susunan tanah.
Susunan tanah adalah sebagai berikut.



Pada hakikatnya sumur artesis adalah sumur yang sangat dalam dengan sumber air berasal dari air tanah dalam setelah lapisan impermeable.

Dalam artikel dari Perusahaan Sumur bor Artesis Rumah Pabrik Hotel Apartemen, 2009 bahwa : “Sumur artesis pun adalah sumur yang bertekanan tinggi karena dia terjebak dalam batuan yang memiliki tekanan, sehingga ketika dilakukan pengeboran, air dapat naik sendiri tanpa harus di pompa. Karena tekanannya cukup tinggi untuk menyembur sampai ke permukaan. (www.sumurbor.com)”
Perbedaan sumur artesis dengan sumur timba biasa (sumur dangkal) dapat terlihat pada skema gambar di bawah ini.



Pada umumnya masyarakat memahami bahwa yang dimaksud dengan sumur artesis adalah sumber air dari dalam tanah yang diperoleh dengan cara pengeboran tanpa memperhatikan secara detail apakah pengeboran tersebut sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Masyarakat berasumsi bahwa suatu sumur dikatakan sumur artesis jika pada saat dilakukan pengeboran, akan keluar air dari dalam tanah tanpa meninjau lebih dalam apakah proses pengeboran tersebut telah menembus lapisan tanah kedap air (impermeable) sehingga sumber air merupakan air tanah dalam atau bukan.
Kurangnya pemahaman di masyarakat mengenai sumur artesis, menyebabkan masyarakat mengeksploitasi air tanah secara besar-besaran tanpa memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan.. Sumur artesis yang digunakan pada jasa pencucian mobil di kawasan jalan I Gusti Ngurah Rai diduga tergolong sumur dangkal. Dugaan ini diperkuat dari hasil wawancara dengan sejumlah warga masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi jasa pencucian mobil.
Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah masyarakat menunjukkan bahwa semakin menjamurnya lokasi-lokasi jasa pencucian mobil di kawasan jalan I Gusti Ngurah Rai ternyata menimbulkan kekhawatiran masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi tersebut.
Kekhawatiran muncul semenjak beberapa tahun setelah usaha pencucian mobil itu beroperasi. Debit air dari keran rumah mereka semakin kecil. Masyarakan khawatir sumur artesis yang digunakan usaha pencucian mobil tersebut menyebabkan sumur dangkal milik masyarakat terkena dampaknya.
Dari berbagai keluhan masyarakat menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan volume air tanah akibat adanya eksploitasi. Besarnya eksploitasi yang dilakukan dapat dilihat dari nilai debit air yang keluar dari setiap kran pada saat pencucian mobil.
Dari 4 (empat) lokasi jasa pencucian mobil, dapat dibuat ke dalam tabel sebagai berikut :
1. Lokasi pertama.
Lokasi ini memiliki 4 keran. Menurut keterangan dari petugas penjaganya, keempat kran air tersebeut di tutup pada malam air. Dan di buka mulai jam 6 pagi sampai jam 6 sore
Tabel rata-rata debit air selama 10 tahun pada lokasi jasa pencucian mobil pertama



2. Lokasi Kedua
Lokasi ini memiliki 2 keran. Menurut keterangan dari petugas penjaganya, kedua keran air tersebut di tutup pada malam air. Dan di buka mulai jam 6 pagi sampai jam 6 sore
Tabel rata-rata debit air selama 10 tahun pada lokasi jasa pencucian mobil kedua



3. Lokasi Ketiga
Lokasi ini memiliki 4 keran. Menurut keterangan dari pemiliknya, keempat keran air tersebut tidak pernah ditutup



Dari ketiga lokasi jasa pencucian mobil diperoleh besarnya debit rata-rata 10 tahun sebesar 742.986.481. Dengan besarnya debit tersebut maka dapat dipastikan dengan semakin menjamurnya jasa pencucian mobil maka semakin tinggi pula tingkat pengambilan air. Pengambilan air tanah secara besar-besaran tersebut jelas berdampak pada kekosongan air di dalam tanah. Jika air tanah semakin berkurang dan menurun maka daya dorongnya terhadap permukaan tanah akan melemah. Hal ini yang membuat tanah menjadi amblas (land subsidence) .
Selain itu, jika tidak ditangani secara serius maka akan menimbulkan masalah baru yakni mengenai pengelolaan limbah air hasil dari pencucian mobil. Pihak penyedia jasa belum menyediakan sarana instalasi pengelolaan air limbah. Apalagi jika dalam satu lokasi terdapat banyak usaha berjenis sama yang yang terjadi di kawasan jalan Gusti Ngurah Rai.
Kasus di atas adalah salah satu contoh penyebab menipisnya persediaan air tanah dengan pengambilan air tanah yang tinggi baik dari industri maupun pemukiman, namun tanpa diiringi dengan upaya konservasi sumber daya air. Padahal manusia tidak hanya manusia memanfaatkan air tanah untuk kebutuhan saja tetapi manusia juga seharusnya memilki tanggung jawab dalam penyiapan instrumumen untuk menjaga kelestarian air tanah tersebut.
Pada dasarnya, masyarakat perlu diberi pemahaman yang benar mengenai apa itu sumur artesis, dimana sumber airnya, dan dampaknya bagi lingkungan. Dengan demikian, kesadaran untuk menyelamatkan lingkungan muncul dengan sendirinya tanpa harus menunggu bencana datang dulu kemudian sadar.
Menyelamatkan lingkungan pun dibutuhkan kearifan dari masyarakat sendiri. Kesadaran untuk bisa hemat air adalah kunci utama menanggulangi masalah ketersediaan air yang terancam habis. Semua tawaran yang penulis tawarkan di atas, tidaklah dapat menyelamatkan air tanah kita jika tidak adanya pengawasan dari pemerintah khususnya pemerintah Sulawesi Tengah yang dalam hal ini Departemen Pekerjaan Umum. Sikap tegas yang dilandaskan dengan hukum yang kuat untuk mengawasi penggunaan air merupakan langkah pemecahan masalah mengenai fenomena ini.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pemahaman masyarakat tentang sumur artesis masih sangat awam. Hal ini menyebabkan mereka menggunakan air tanah semaunya tanpa berpikir dampak yang akan terjadi pada lingkungan.
2. Sumur artesis yang digunakan di tempat jasa pencucian mobil diduga merupakan sumur dangkal yang sumber airnya sama dengan sumber air sumur warga yang bermukim di sekitar tempat pencucian mobil jalan I Gusti Ngurah Rai. Dengan kesalah pahaman mengenai konsep artesis tersebut, masyarakat menggunakan air tanah tanpa pengendalian, sehingga berdampak pada lingkungan bukan hanya sekarang namun untuk masa depan.

B. Saran
1. Diperlukan adanya regulasi yang dapat mencegah ataupun membatasi penggunaan air tanah secara berlebihan.
2. Perlunya sanksi yang tegas serta pengawasan dari pemerintah
3. Perlunya sosialisasi dan pembinaan kepada masyarakat mengenai pentingnya menyelamatkan lingkungan dari krisis air.
4. Pembuatan sumur resapan (biopori), yang merupakan solusi yang paling mudah, murah dan sederhana serta dinilai berdampak positif bagi penyelesaian krisis air tanah.
5. Penanaman rumput vetiver. Rumput vetiver (chrysopogon zizanioides) juga dapa digunakan sebagai alternative solusi. Selain untuk mencegah erosi, vetiver juga dapat menyaring air berpolusi (seperti timah hitam), pebaikan lahan, serta peningkatan kualitas air . Tinggi tanaman dapat mencapai 2 meter sedangkan akar yang vertical tumbhuh ke bawah mencapai hingga 4,5 meter dan berfungsi mengikat tanah.
6. Teknologi berbasis 3R yaitu Reduce, Recycle, dan Reuse.
Reduce artinya mengurangi, maksudnya masyarakat dihimbau untuk mengurangi penggunaan air sehingga eksploitasi air tanah dapat diminimalisir. setelah penggunaan air tanah dapat dikurangi, saatnya limbah hasil pembuangan masyarakat diolah kembali dengan metode recycle. Banyak cara yang dapat dilakukan. Salahsatunya dengan membuat bak penampungan kemudian dilakukan pemfilteran air. Setelah dinyatakan layak, air tersebut dapat digunakan kembali (Re use). Mungkin solusi ini membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun itu tidak seberapa jika dengan teknologi 3R ini dapat menjamin ketersediaan air tanah untuk masa yang akan datang

DAFTAR PUSTAKA

Linsley K. Ray dkk. 1991. Teknik Sumber Daya Air. Erlangga. Jakarta
Hermawan, Yandy.1989.Hidrologi Untuk Insyinyur.Erlangga.Jakarta
Raksa Sanusi Supadi.2008.Muka Air Tanah Bandung Turun 100 meter.(www.google.com, diakses tanggal 16 Maret 2009)
Perusahaan Sumur bor Artesis Rumah Pabrik Hotel Apartemen, 2009.Sumur Bor Artesis.(www.sumurbor.com, diakses tanggal 16 Maret 2009)

1 Response to "KEARIFAN PENGELOLAAN SUMUR ARTESIS UNTUK PELESTARIAN SUMBER AIR TANAH"

  1. Indoboor says:
    13 November 2012 06.16

    menurut pendapat saya. tidak semua daerah terdapat sumber air artesis(skema gambar sumur artesis).sumber artesis terdapat pada tempat-tempat spesifik seperti lembah pegunungan. sedangkan pada lapisan 60m atau lebih bisa disebut lapisan air tanah dalam.trims.

Poskan Komentar